Ngidam

by - Rabu, Desember 28, 2016

Sebenarnya sudah lama saya ingin share tentang hal ini tapi baru sekarang saya berani, setelah 23 tahun lamanya kalem. Kalem karena takut. Takut karena ter-bully.

Iyah, saya salah satu korban bully.

Ibu saya wafat 14 tahun yang lalu. Tapi saya tidak membahas tentang bagaimana atau kapan tepatnya beliau wafat, lebih menarik daripada itu.
Adalah tentang belajar membaca 'cantik' dari prespektif yang berbeda.

Oke, mereka bilang (oknum dirahasiakan) Ibu saya bukan hanya jelek, pendek, cacat, penyakitan tapi juga menjengkelkan. Wow, betapa ibu saya terlihat sangat the beast.

Dan mereka suka nyinyir dengan bilang "Untung dulu Ibu kau pas hamil ngidamnya dengki sama orang cantik. Coba ga gitu kau juga jelek, bahkan lebih jelek!" Kalimat nyinyir ini membuat saya bosan, karena terlampau sering diucapkan. Bahkan setelah Ibu saya telah lama mati.

Sebelumnya terima kasih telah mengakui bahwa saya ini cantik. Bahkan lebih cantik daripada anda. Itu sebuah sanjungan yang luar biasa, saya apresiasi.

Tapi, aku anak ibuku. Anak satu-satunya. Situ sadar ngina seorang ibu di depan anaknya?. Walaupun saya Alien, E.T. bukan berarti tidak punya hati kan? Duh, otakpun saya punya.
Yaiyalah punya otak! Emang situ?
Cacat logika inlader jahiliyyah.
Lagian, gen 'orang cantik' ga mungkin nyasar ke rahim ibu saya. Ya kan?

Pada jamannya saat ibu saya mengandung saya, fertilisasi in vitro alias bayi tabung juga belom ngehits. Ga mungkin sperm 'orang cantik' diInjeksikan ke ovum kemudian dipindahkan ke rahim ibu saya. Ga mungkin! Ya kan?

Nyinyir-in orang hidup saja tanda tak mampu, apalagi nyinyirin orang mati. Situ waras?
Iyah, ibu saya memang pendek seperti dwarfs, jelek, penyakitan dan cacat,
.
.
dan dengan segala 'kejelekannya' beliau mampu membikin orang menjadi cantik dengan kemampuan MUA-nya. Dan sekampung mengakuinya. Kamu belum tentu bisa, make up wajah sendiri aja mungkin masih belepotan apalagi wajah orang! Ya kan?

1. Ibu saya adalah orang jelek yang mampu membikin orang menjadi cantik, dan mereka bahagia.
.
.
dan dengan segala 'kecacatannya' beliau adalah penjahit favorit. Beliau bisa membuat kain menjadi sebuah baju yang indah, sekampung mengakuinya.

2. Ibu saya adalah orang cacat yang mampu membuat orang percaya diri dengan penampilannya. Dan mereka bahagia.
.
.
dan dengan segala 'penyakitnya' dia selalu optimism bahwa bahwa Tuhan percaya untuk menitipkan salah satu anugrah yang membuat hidupnya menjadi lengkap sebagai seorang wanita, menjadi ibu saya.

3. Ibu saya adalah orang 'penyakitan' yang entah bagaimana dia berjuang dengan segala kelemahan dan ringkih tubuhnya demi melahirkan saya, secara normal bukan caesar. Dan saya bahagia.
.
.
Bu, Mayasitha kangen. Maaf, anakmu belum mampu melakukan sesuatu yang membuatmu bangga. Tapi Mayasitha akan berusaha. Terima kasih, Ibu.

You May Also Like

1 komentar

  1. Al-fatihah utk Ibunya Mayasitha, doa anak solehah akan selalu dapat menjadi penerang untul alm. Ibu yg telah berpulang... selalu doakan Ibu & menjadi 'penerang' bagi beliau, maka mayasitha telah melakukan sesuatu utk beliau :)

    BalasHapus