Lina

by - Jumat, Oktober 06, 2017

Kamu sesuatu yang asing dan begitu familiar dan kita tidak membutuhkan alasan apapun.

Sudah beberapa hari ini Angga tidak mengajaknya bicara. Ketika bertemupun di sekolah Angga selalu menghindar. Megi, teman sebangkunya mulai jengah karena harus berkali-kali menyoleknya, memberi kode kalau guru mulai curiga dia sedang melamun tidak memperhatikan penjelasan di depan, memutar-mutar pulpennya dan menatap kosong ke luar jendela, ke langit yang kosong tanpa awan cumulus, hanya biru langit dan burung yang jarang berseliweran, mungkin sesekali setelah itu tak ada lagi. Yang memenuhi pikirannya hanya ada Angga.

Hubungannya dengan Angga sudah berjalan hampir enam tahun, dari mereka masuk SMP dulu di sekolah yang sama namun beda kelas, sekarangpun masih, selain beda jurusan. Angga di jurusan pariwisata dan dia di teknik informatika. Mereka hampir tidak pernah bertengkar hebat selama ini, semua berjalan baik-baik saja.  Dan sekarang, Angga tiba-tiba mendiaminya, bahkan menghindarinya.

Saat jam istirahat tiba dia melengos menuju perpustakaan. Tidak ada siapapun disana kecuali Wildan yang sedang duduk di pojok ruangan dan Buk Wirda, penjaga perpustakaan.

Wildan teman sekelasnya, sejak kelas sepuluh malah, si juara kelas dan introvert yang jarang bicara. Siapa pacarnya, masih misteri. Tak ada yang tahu, menurut  gossip yang beredar, pacarnya anak sekolah lain.

Yaiyalah, siapa yang ngga mau sama Wildan? Ga begitu ganteng sih, keren iya, kaya iya, pinter juga iya. Hanya dia yang ngga mau sama Wildan, dia hanya mau Angga dan sekarang Angga mendiaminya.

“Wil?” Wildan mendongakkan kepalanya kea rah Lina. Lina mengambil duduk di depannya.

“Ada apa?” Tanya Wildan. Lina mengambil buku yang sedang dibacanya. Wildan mengerutkan keningnya. Itu bukan hal yang sopan. Tapi sejak kapan Lina sopan? Selain dia sombong, misalnya.

“Ga da” Jawab Lina sambil membolak-balik halaman buku yang dia rebut dari Wildan. “Kenapa kamu selalu ke perpus? Aku perhatikan kamu jarang ke Kantin. Mungkin iya, tapi hanya sebentar lalu kamu ke sini?” Lanjut Lina.

“Apa urusanmu?” Jawab Wildan yang masih kesal dengan ketidaksopanan Lina yang tiba-tiba merebut buku yang sedang dia baca.

“Kenapa kamu baca Taschen?” Tanya Lina lagi. Dia bahkan ngga peduli dengan kekesalan Wildan terhadapnya. Wildan merebut bukunya kembali dari Lina saat Lina sedang asyik membolak-balik halaman.

“Tahu apa kamu?” Lina menatapnya biasa saja, dia mengangkat bahunya, seolah-olah itu adalah jawaban pertanyaan Wildan. Lalu dia  beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Wildan sendirian lagi.

Wildan hanya menatap punggung Lina yang kemudian menghilang dari balik pintu. Dia heran, mimpi apa Lina tiba-tiba menghampirinya di perpustakaan hanya untuk iseng mengganggu  dia sebentar?.

Keesokan harinya masih sama, Lina datang lagi menghampirinya, hingga esoknya lagi dan esoknya lagi, kadang hanya duduk di depannya dengan diam dan sibuk memainkan henponnya, lalu pergi tanpa kata. Dan ini cukup membuat Wildan terbiasa. Sebenarnya kedatangan Lina beberapa hari ini tidak mengganggunya sama sekali bahkan terasa seperti biasa saja. Karena Wildan selalu melihat Lina setiap harinya, mungkin. Secara, mereka selalu sekelas dari kelas sepuluh sampai sekarang, kelas duabelas.

Dan Lina bahkan tidak mengerti mengapa dia  menghampiri Wildan ke perpustakaan. Sebenarnya dia tidak menghampiri Wildan. Dia sedang menghindari supaya tidak berpapasan dengan Angga yang sedang menggantung nasib hubungan mereka. Dia hanya terlalu sakit ketika ngga sengaja bertemu dan berpapasan dengan Angga, Angga bersikap seolah-olah tidak pernah ada apa-apa di antara mereka. Maka dari itu dia sengaja ke perpustakaan dan kebetulan Wildan selalu ada di sana. Mungkin ada beberapa yang lain, tapi yang dia kenal dengan baik hanya Wildan. Bukan karena selama ini mereka dekat, tidak, mereka bahkan tidak pernah saling menyapa dan terlibat obrolan yang lama dan intim, hanya saja terbiasa karena selalu sekelas.

Lina bukan type cewe populer sekolah, padahal dia termasuk yang tercantik di kalangan murid perempuan, tapi dia biasa saja. Dia begitu wah tapi bukan berarti dia type yang down to earth, dia bahkan terkenal sombong, walaupun sebenarnya dia tidak. Dia type cewe cantik yang jarang berbiacara kecuali dengan orang-orang yang terbiasa akrab dengannya dan dia menjadi sangat cerewet kalau sudah akrab. Lina tidak terlalu pintar, dibanding Syifa, dia jauh.

Menurut Wildan “Tuhan adil. Karena yang cantik tidak terlalu pintar dan yang biasa saja seperti Syifa, si anak kelas Akutansi, misalnya, malah sangat pintar”. Dan tidak ada kesan apa-apa lagi tentang Lina, yang dia bahkan tidak peduli sama sekali.

Tapi akhir-akhir ini, saat Lina menyapanya dengan pertanyaan yang sama, itu cukup meninggalkan kesan yang berbeda di pikiran Wildan, dan itu cukup mengganggunya. “Kenapa kamu baca Taschen?” Wildan selalu menjawab “Kamu tahu apa?” Dan Lina tidak menjawabnya lagi.

Dan moment-moment ini terjadi berbulan-bulan hingga akhirnya mereka mulai sibuk dengan ujian dan tidak pernah bertemu dan duduk berhadapan dalam diam sepanjang istirahat lagi di perpustakaan. Semua berjalan seperti biasanya.

Hubungan Lina dan Anggapun tidak ada kemajuan, Lina hanya pasrah, meskipun di pertama-pertama dia sempat drama dengan mengirim banyak pesan ke Angga, menanyakan ada apa dan bagaimana kejelasan hubungan mereka, tapi Angga tidak pernah membalasnya, lama-lama membuat Lina bosan dan kebetulan ujian akhir sekolah sangat membantunya untuk membuat dia lupa akan patah hatinya terhadap Angga, yang bahkan dia tidak benar-benar yakin kalau dia patah hati.

Hingga pengumuman kelulusan dan dirinya diterima di salah satu kampus kejuruan swasta, Wildan di universitas negri mengambil jurusan arsitek, dan Angga melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi pariwisata, semua berlalu biasa saja tanpa kesan apa-apa. Datar.

Tiba-tiba di hari acara wisuda, kelulusan sekolah, Angga datang mengahampirinya.

“Lin?” Sapa Angga. Lina tersenyum tanpa ada rasa di sana. Angga memberinya bucket bunga. “Selamat ya!” Lina menerima dan “Terima Kasih” Katanya. Ada jeda sejenaknya setelahnya sebelum akhirnya Angga mengucapkan kata-kata yang cukup membuat Lina tersenyum lucu dan sadar akan sesuatu.

“Mmmm…. Satu semester ini aku nanya, aku dan kamu bagaimana?” Angga diam sejenak, memikirkan kata-kata yang pas. “Aku cuma nanya ke diri aku sendiri, aku sayang kamu atau ga?” Lalu jeda lagi “Kita udah lama banget ya pacaran?!”

“Oh, kita masih?” Tanya Lina meyakinkan.

“Ya! emang kapan kita putus?” Jawab Angga.

“Oh” Hanya itu saja yang keluar dari mulut Lina.

“Aku bahkan sampai lupa, kita jadian dulu kenapa ya?”

“Sama, aku juga lupa!” Jawab Lina.

“Terus selama ini aku diemin kamu, aku cuma ngasih waktu ke kita, dan akhirnya aku jadi tahu, kenapa aku sayang banget sama kamu dan aku pengin kita bisa sama-sama terus”

“Kenapa? Bukannya sayang ga butuh alasan?” Tanya Lina. Lalu Angga menjawab “Karena selama ini aku nyari tahu alesannya apa dan ternyata aku ga nemui celahnya dimana!” Seketika Lina tersadar. Teringat sesuatu yang membuat dia ga punya alasan sama sekali suka terhadap seseorang. Lina tertawa, lalu memngembalikan bucket bunga yang Angga beri dan meninggalkannya. Angga terdiam, ngga ngerti kenapa Lina meninggalkannya begitu saja.

Lina menepuk bahu Wildan dari belakang. Wildan menolehkan kepalanya. Dilihatnya Lina dengan senyum yang sangat sumringah.

“Kamu kenapa baca Taschen?” Tanya LIna antusias. Wildan menatapnya ngga ngerti.

“Tahu apa kamu?” Tanya Wildan seperti biasanya, seperti kemarin, sebelum-sebelumnya. Lina menyolek Megi yang sedang duduk di sebelah Wildan dan memberinya kode untuk pergi. Megi paham, lalu pergi, memberi kursinya ke Lina. Lina tersenyum manis kepada Megi, seolah-olah itu adalah ucapan terima kasihnya.

Wildan masih menatapnya dengan pandangan ngga ngerti.

“Kamu tahu kenapa?” Tanya Lina. Wildan mengerutkan keningnya, lalu menggeleng.

“Karena selama ini kamu suka aku dan aku suka kamu!” Jawab Lina tegas. Wildan tersenyum, menggelengkan kepalanya seolah-olah ngga percaya dengan apa yang sedang terjadi, dengan apa yang Lina baru saja katakan. “Dan kita ga pernah nyari tahu aja apa alesannya, kita hanya terbiasa” Wildan malah tertawa dan bilang “Tahu apa kamu?”. Lina tersenyum dan menjawab “Tahu apa kamu?”. Kemudian mereka menatap ke depan, ke podium di mana Pak Kepala Sekolah sedang berdiri dan akan memberi sambutan. Wildan megenggam tangan tangan Lina di atas pahanya, mereka tersenyum membenarkan semuanya.


You May Also Like

0 komentar