Bakat Menggonggong Oleh Dea Anugrah

By Mayasitha Arifin - Selasa, Februari 06, 2018



"May, Dea Anugrah siapa si?"

Bukan artis Korea sih intinya. Pokoknya kegantengannya ngga beda jauh sama Chow Yun Fat. Tiap malem kebawa mimpi.

Tahu dia dari cerpennya yang dimuat di Jakarta Beat yang judulnya; Aku, Kau dan Sedikit Chopin (di sini). Selanjutnya aku mulai mencari bukunya ke toko-toko buku, tapi waktu itu stok masih belum ada. Sedih, tapi ngga putus asa. Akhirnya satu-satunya cara kudu bikin tulisan yang biar bisa dapetin bukunya. Tulisan pertama ditolak, ngga menyerah, abis sudah kadung mupeng akan Dea Anugrah, jadi mencoba lagi dan akhirnya dimuat, dimuat karena kenal pimpinan redaksinya yang sudah dengan sabar mengediting semalaman, pahala dia pasti sangat banyak. Tulisan itu dapat dibaca di sini. Dan tradaaa,,, akhirnya pada suatu hari datanglah paketan ke kantor yang isinya buku karyanya yang berjudul; Bakat Menggonggong.

"Jadi, kamu suka dia hanya karena dia ganteng, May?"

Ngga juga sih, karena tulisan-tulisan dia bagus kok. Dan kebetulan saja orangnya ganteng jadi tambah makin kebawa mimpi, tiap hari scroll instanya buat baper dan hati cenat-cenut. Kalau yang suka mentengin tirto.id pasti ngga asing sama namanya.

***
Omong-omong tentang Dea Anugrah lagi ya, ini buku kedua dia yang terbit setelah Misa Arwah, sebuah antologi puisi. Bakat Menggonggong ini begitupun, sebuah antologi yang berisikan lima belas cerpen tjakep banget seperti penulisnya-yang mana cerpen-cerpen dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di pelbagai media seperti Koran Tempo dan Media Indonesia. Untuk cerpennya seperti Pemuda E, Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu dan Omong Kosong yang Harus Ada, dan Tamasya Pencegah Bunuh Diri bahkan pernah dia terbitkan di akun fesbuk pribadinya, kisaran tahun 2013-2014. Cerpen tersebut bisa kalian baca di sini, di sini, dan di sini.

Sejujurnya yang aku suka dalam buku ini adalah tulisan pada pembatas bukunya;
"Kau jangan mati dulu, besok kuceritakan yang lebih menarik"
-itu bikin aku ingat sama Syahrazade dalam The Arabian Nights, kisah seribu satu malam. Mungkin kapan-kapan aku akan bahas buku The Arabian Nights by Andrew Lang di lain waktu.

Bakat Mengonggong ini cuma judul buku saja, bukan judul salah satu cerpen, karena semua diceritakan kayak anjing yang lagi menggonggong, berisik tapi aku suka! Hahaha... sama, yang aku suka dalam cerita di buku ini adalah Kisah Sedih Kontemporer (IV), (XII), (XXIV), (IX)-cerita yang krik, krik, krik, tapi lucu.

Buku ini highly recommend karena selain penulisnya yang cakep banget, tulisannya juga ngga kalah cakep lagi lucu.

Jadi, di review ini, aku sedang mempromosikan apa? Dea Anugrah yang guanteeengg?

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Saking jarangnya penulis ganteng kah, May? Makanya ulasan ini lebih bahas fisiknya daripada tulisan? :p

    Saya tahu Dea Anugrah dari Armandio (Dio) karena Dea adalah editor di buku pertamanya: "Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya". Tulisan Dea emang bagus euy. Sinis sekali dan saya akui dia memang bakat menggonggong alias pandai bercerita. Di buku kumcer itu, saya paling suka "Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada".

    BalasHapus
  2. Bukunya bagus kah Mbak ?, Gue belum baca bukunya, sempet lihat covernya Di bookstore sih

    BalasHapus