Short poem by Mayasitha
Aku adalah kuil, tempatmu memujaku.
Tubuhku adalah altar.
Aku adalah alasanmu membuat persembahan dan pengorbanan.
Karena aku adalah dewamu!
Dan aku baru saja jatuh cinta pada bercak espresso yang tak sengaja tumpah di atas bukuku, basah dan ketika kering meninggalkan warna rasa kenangan akan sebuah moment yang indah.
Biarkan saja begitu, jangan ditatap lama-lama si noda, nanti jadi rindu.
Biarkan saja begitu, jangan ditatap lama-lama si noda, nanti jadi rindu.
Sini, biar aku deskripsikan baumu yang tertinggal di seprei
kasurku: ada bau rokokmu di sana. Apa? Oh ya, L. A Light. Juga ada aroma
deodorantmu yang bercampur dengan keringatmu. Ada bau teh hijau. Ada bau citrus
yang berasal dari Fisherman yang suka kamu makan. Dan ada bau matahari.
Aku tulang rusukmu yang sedang bertualang
sebelum akhirnya pulang,
untuk melengkapimu dan tinggal
berada di dekat jantungmu, Sayang