Rindu, Tere Liye.

by - Kamis, Agustus 17, 2017

Pas baca sinopsisnya aku kira novel ini novel cinta Islami drama ala-ala. Terus buka halaman pertama seolah-olah dibawa ke masa 1938, Indonesia belum merdeka, masih lama, masih tujuh tahun lagi. Keadaan Indonesia  masih dibawah penjajahan Belanda, masih acak-kadul, masih belum jelas.

Baca novel ini berasa nonton film fantasy Hollywood. Jaman dahulu dan bersetting di atas kapal uap yang besar seperti Titanic, tapi ini bukan kapal untuk sosialita pesta, Blitar Holland adalah kapal yang mengangkut jamaah haji Indonesia.

Dimana pada masa itu perjalanan haji dengan menggunakan kapal dari Indonesia menuju Jeddah berlangsung selama 30 hari. Jadi bisa dibayangkan 30 hari di atas kapal, terombang -ambing, bukan lagi melewati lautan, tetapi juga melewati samudera Hindia. Digambarkan perjuangan berhaji pada jaman itu perlu pengorbanan dan perjuangan yang sangat keras untuk menempuhnya. Transportasi belum semudah masa kini.

Oke, ada ribuan jamaah haji mungkin di atas kapal uap itu dan novel ini bercerita tentang beberapa di antaranya. Ya kali mau diceriratakan semuanya :')

Novel yang mengisahkan pelajaran dalam sebuah perjalanan, perjalanan menuju rindu agar tersampaikan.

Kisah tentang Bonda Upe dengan membawa masa lalunya yang kelam, dalam perjalanan menuju rindu dia belajar untuk menghadapinya, berdamai dengan dirinya sendiri, dan menerimanya.

Kisah tentang Daeng Andipati dengan membawa kebencian yang amat besar terhadap orang yang seharusnya dia kasihi, dalam perjalanannya menuju rindu, dia belajar untuk menerima diri sendiri, memaafkan dan mulai membuka lembaran yang baru.

Kisah tentang Mbah Kakung Selamet yang tiba-tiba kehilangan pendampingnya saat dimana seharusnya menuntaskan rindunya bersama dengan suka cita, dalam perjalanannya menuju rindu, dia belajar untuk menerimanya, membiarkan waktu mengobatinya dan memahami ada takdir Tuhan yang tidak bisa kita ubah.

Tentang Ambo Uleng membawa cintanya, dalam perjalanan lari dari patah hatinya dia belajar untuk merelakan, melepaskan, memantaskan diri dan mengendalikan harapan dan keinginan.

Tentang Gurutta Keraeng dan makna kehilangan, dalam perjalanan menuju rindunya dia belajar tentang pengorbanan, bahwa kebebasan butuh perjuangan dalam meraihnya diperlukan perbuatan nyata bukan hanya dengan lisan ataupun tulisan.

Seperti biasa Tere Liye adalah pencerita yang baik.

Buku setebal 544 halaman ini mampu membuat kita seolah-olah ada di dalamnya, di atas kapal-seperti ikut mabuk laut, singgah sebentar di pelabuhan-pelabuhan: Surabaya, Batavia, Padang, Aceh ataupun Srilanka. Seperti menjadi tokoh Anna ataupun Elsa dalam novel ini yang melihat langsung lumba-lumba, ikan paus, ikan terbang, burung Falcon yang berimigrasi,  ke pertambangan batubara di lampung, melihat cara kerja mesin uap. Ikut tegang saat kapal dicegat oleh bajak laut, perampok Somalia, ikut menyerang dan melawannya.

Pokoknya novel ini recomend karena ceritanya seru banget, walaupun tetep novel favorite aku dari Tere Liye adalah Ayahku (bukan) Pembohong. Hahaha


Selamat membaca

You May Also Like

13 komentar

  1. saya ngak terlalu suka novel mba.
    tapi pas liat salah satu novel tere "rembulan tengelam diwajahmu" itu keren banget.

    BalasHapus
  2. Tere Liye emang salah satu penulis profuktif. Banyak bukunya yang bergenre fiksi. Sama, aku juga suka novel Ayahku (bukan) Pembohong. Ceritanya bikin baper. :)

    BalasHapus
  3. belum pernah baca karya beliau, gue agak gak kuat soalnya baca yang tebel-tebel haha. btw, tere liye ini produktif banget bukan sih? pernah liat 1 rak di gramedia bukunya dia semua dan banyak pilihannya :o

    BalasHapus
  4. Belum baca yg iniMbak. Jadi makin penasaran, dia memang pecerita yg baik. Eak untuk dinikmati sambil ngopi ya :)

    BalasHapus
  5. Emm pengen banget bacanya.. Tere liye adalah inspiratorku untuk menulis..

    BalasHapus
  6. Wah, aku jadi penasaran dengan novel2 karya Tere Liye.
    Kebetulan aku juga suka menulis fiksi, sepertinya aku juga harus punya novelnya. Termasuk yang diceritakan di atas.

    BalasHapus
  7. Salah satu penulis yang produktif banget menghasilkan buku. Tapi satu pun saya belum baca. :(

    Padahal sering lihat buku itu dibaca temen-temen cewek.

    BalasHapus
  8. Saya sering baca quotes dari tere liye semuanya memotivasi setiap orang yg baca.

    BalasHapus
  9. Jadi penasaran pengen melahap isi nove ini, sejak sibuk masak dan mengurus anak jadi banyak tertinggal
    novel oh novel rindu

    BalasHapus
  10. jadi tertarik buat baca, tapi tau 544 halaman bikin aku takut..
    takut gak baca tuntas hehe

    BalasHapus
  11. Belum pernah baca novelnya selain yang Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Itu bagus menurutku. Zaman dia belum nerbitin di GPU. Kalau kumpulan cerpennya udah, sih. Sekarang belum pernah baca lagi. Habisnya ketipu. Dikira dulu tuh dia cewek 2 tahun di atasku gitu usianya, taunya bapak-bapak. Patah hati deh. :(

    Hm, jadi ceritanya soal zaman dulu gitu, ya. Dari judulnya, aku udah asal nge-judge kalau menye-menye gitu soal ABG. Wakaka.

    BalasHapus
  12. suka pake banget semua novel tere liye... siapa ciba yng nggk suka.. novelnya bagus beutttt

    BalasHapus
  13. Waah,, aku belum sempat baca yg ini... Tapi dari setting yang kamu review, kelihatannya menarik sekali. Wajib aku baca... Saat ini lagi nuntasin novel2nya bung pram ama laksmi pamuntjak dulu... Baru kalo pulang ke indo, beli novel ini...eh ada ebook nya nggak ya?

    BalasHapus