Tiga Jam di UGD

2017 memang spesial. Diawali dengan senyum dan siap. Dari malam tahun baru hangout ke store temen kemudian ke Pinggan, Songgan, Museum Bali, Museum dan Perpustakaan Agung Soekarno, meeting rotaract setiap minggunya, ke Tabanan untuk sosialisasi Thalasemia, merayakan ulang tahun Rotary Club of Denpasar ke 35 tahun, mandi di Tukad Unda di Klungkung, mendaki Gunung Batur, balik lagi ke Tabanan mengantar Toothless, kucing kesayangan untuk dikawinkan dengan Putih, pulang kampung ke Singaraja, balik lagi ke Denpasar langsung pergi nongkrong lagi, main Uno semaleman, esoknya pengajian mingguan dan akhirnya tradaaaaa...
masuk UGD
Sekian.

***

Eh ada cerita;
Saat pengajian mingguan di Masjid untuk belajar mengaji dan memperbaiki bacaan Quran, badan emang uda kasih sign "I tired, May!" tapi aku masih bandel, sampai akhirnya demam. Biasanya demampun aku masih suka pecicilan tapi kali ini benar-benar lemas. Pergi ke dokter uda ga sanggup bangun dari kasur. Derita anak kost yang jauh dari keluarga mulai kerasa payahnya.

Di tanggal 24 malam tiba-tiba terbangun dan muntah-muntah. Uda rasanya lebih parah daripada mabok laut naik boat dari Kuta Reef ke Alas Purwo, Banyuwangi. Bahkan rasanya lebih parah daripada naik angkot isi segala macem isi pas siang hari. Karena ga sanggup, nyoba telpon sahabat deket, Kak Mutek dan suaminya dan itu uda jam 12 malem. Ga pake basa-basi, mereka langsung angkut aku ke rumah sakit terdekat.

Duh drama ya...

Di UGD

"Pak Dok, saya demam"

"Udah berapa hari, Dek?"

"Tiga"

"Silahkan tidur di sebelah sana yah, Dik!"

"Pak Dok, saya pengen muntah"

"Loh, adeknya belum merid kan?"

Yah, belomlah! Jangan menghina single,  Dok!

"Adeknya hamil?"

Ini dokter budek, aku uda bilang aku demam. Emang aku gendut, perut berlemak macam polisi tidur kan bukan berarti bisa dituduh hamil kan yaa.. ini lagi sakit emang kudu sabar, ga boleh marah. Duh, Allah.

Aku cuma bisa menggelengkan kepala dan akhirnya rebahan di kasur. Kak Mutek dan suaminya mengurus pendaftaran dan administrasi lainnya. Saat itu ruangan tak begitu ramai. Dokter mulai memeriksa, kondisi suhu badan 38°c dan tekanan darah 100/60. Dokter bilang akan menginfusku karena tubuh sudah dehidrasi. Aku mah udah pasrah. Tumben sakit ga bisa pecicilan. Dan rasanya dimasukkan jarum infus... ahsudahlah.

Kira-kira setengah jam kemudian Kak Mutek dan Suaminya, Farki datang.

"May, kata dokternya dua jam lagi diperiksa. Kalau keadaan belum dinilai membaik kamu rawat inap ya!" Kata kak Mutek.

"Lah, emoh aku"

"Gimana, May? Jarum infus kayak digigit semut kan?" Goda Farki.

"Tae"

"Iyah, digigit semut. Tapi semutnya besar banget. Belom selese aku jelasin, May."
"Suamimu ngomong!"

We laugh, oh hell yeah. Emang, senjata anak rantau , sahabat adalah keluarga. You're made my days.

-


Di jam pertama ruangan jadi sedikit lebih ramai. Ada beberapa laki-laki sibuk wara-wiri, cukup banyak malah. Salah seorang dari mereka penuh luka dan lebam.

"Mereka bilang minta visum" Bisik kak Mutek.

"Sangar, kak"

"Iyah, May. Kalau hasil visum keluar kan bisa didenda 'tersangka'nya"

"Oh, ngeri yaaa dunia di malam hari ternyata"

Cairan infus habis. Yes, pulang.

"Dok, habis!" Teriakku Girang.

Perawat datang dan, eh... kok malah diganti yang baru. Ya Allah, sakit emang ngajarin sabar.

"Pak, ini telpon keluarga di rumah. Bilang bahwa bapak harus rawat inap. Bapak tau kan nomer keluarga yang bisa dihubungi?" Kata Pak Dokter (yang tadi menyambut aku) menyerahkan telpon genggamnya kepada bapak tua di sebelah beberapa kasur dari tempat aku.

Dan kami bertiga baru sadar disana ada bapak tua mojok dan sendirian. Entah sudah berapa lama. Mungkin lebih dulu daripada aku dan sudah cukup lama-terbata dan bernapas memalui tabung oksigen.

"Ga ada, Dok"

"Loh, atau siapa saja. Telponlah nanti saya yang ngomong!"

Kami bertiga hanya melihat, miris. Bapak itu mengetik nomer dan menyerahkannya lagi ke Pak Dokter.

"Halo, Bagaimana ini? Bapaknya harus dirawat inap. Apa? Lagi di kampung? Kenapa Bapaknya ditinggal sendirian disini? Ini Bapaknya harus dirawat inap. Iyah..."

Bommm, rasanya di dada ngeliat seperti ini ngebikin lebih banyak bersyukur. Ingat orangtua di rumah, di kampung. Aku, cewe baru belajar merantau ke kota-yang jauh dari keluarga dalam keadaan sakit emang payah tapi aku ga sendirian, masih diberi nikmat sahabat yang menemani. Bapak itu tua, sakit, di pojok dan sendirian. Pernah ngebayangin gimana rasanya?. Duh, Allah dalam keadaan sakitpun mau mengeluh banyak malu, malu sama nikmat yang lebih banyak diberikan. Duh Allah, maaf. Hening.

"Hey, Sayang!"

"Apa, Farki?"

"Kayaknya Maya sakit gegara kucing juga."

"Kenapa sekarang jadi nyalahin kucing Maya di rumah?"

"Iyah, Sayang. Kucing Maya di rumah kan mengandung apa itu?"

"Itu apa?"

"Itu loh, itu... itu apa namanya? Oh iya virus. Iyah virus, Sayang"

"Ga ah. Ga ih. Ga ada hubungannnya. Rosulullah pelihara kucing juga. Rosulullah sehat"

"Ih Sayang, kan kucing Rosulullah beda sama kucing Maya"

"Ga ah sama aja. Sama-sama kucing"

"Beda ih, Sayang pokoknya beda"

"Apanya beda?"

"Beda! Kucing Rosulullah kan disholawatin, kucing Maya ga"

Ya ampooonnnn, ini Farki ngomong apa. Debatin masalah kucing sama istrinya ribet banget ujung-ujungnya kok ... ya ampooonn. Dagelan syariah? Biar apa kucing disholawatin? Ini demi apa. Lagi merenung hening tentang Bapak tua di pojokan pecah hanya karena kucing disholawatin. Ini demi apa.

"Ya udah, May. Balik rumah sholawatan jangan lupa" Kata Kak Mutek gemes. Kalau bisa pecicilan aku juga pengin nyemprotin cairan infus ke Farki. Tapi.... ya ampooonnn di UGD bisa-bisanya bikin dagelan receh.


-

Infus ketiga


Udah makin pasrah.

"Keluarga Diyah, bisa tolong ke Lab untuk hasil cek darah?" Pinta perawat.

"May, kita ke lab ya. Gapapa kan sendirian?" Aku mengangguk. Dan alone, rebahan dan melihat sekeliling.

Duh, padahal Kak Mutek lagi ngejer skripshit dan Farki besok pagi harus mengajar ke Sekolah dasar. Sekarang jam dua seperempat dan mereka di sini-bersedia aku repotin dengan sakit yang aku sebabin sendiri. Abis bandel, terlalu menikmati libur kerja hingga mengabaikan ketika tubuh memberikan sign "May, istirahat bentar yuk!". Kak Mutek dan Farki ini memang memiliki cerita panjang sebagai teman. Pokoknya begitulah, gabisa aku jabarkan seperti apa. Pokoknya kita teman, keluarga.

Tiba-tiba seorang ibu muda datang tergupuh-gupuh menggendong anaknya, bayinya, menangis. Dia langsung merebahkan bayinya di atas kasur yang kosong. Oh, my, she's crying loudly.

"Dok, tolong anak saya"

"Dok, tolong pokoknya tolong" Rengeknya. Aku bangun dan duduk, memperhatikan. Dokter segera datang dan memeriksanya.

"Bayinya kenapa sebelumnya?"

"Sesek"

"Dia sudah biru" Ucap Dokter. Sang Ibu makin menangis.

"Detak jantungnya sudah ga ada!" Ucap Dokter sekali lagi dan Sang ibu kian menangis. Bingung. Merajuk ke Dokter yang lain yang ada di ruangan itu.

"Dok, tolong anak saya!"

Suasana seketika ramai. Tirai ditutup dan beberapa laki-laki yang tadi mencoba mengintip dari jarak jauh. Sang ibu menangis semakin pilu. Aku melihat. Entah,

Aku pernah beberapa kali mendengar tangisan teman yang ditinggal mati ibunya, aku pun juga, dulu sekali. Sedih sih, sedih banget. Tapi mendengar tangisan Ibu yang ditinggal mati anaknya jauh lebih pilu dari tangisan siapapun yang pernah aku dengar. Aku baru tahu, seperti ini? Pilu sekali, aku .diam dan terdiam diam. Entah,

Mungkin saat kita ditinggal mati Ibu kita hanya sedih, sedih banget, sedih untuk hal yang enak-enak ga kan ada lagi. Iya kan? Sedih ditinggal oleh sesuatu yang paling enak, ibu kita, apapun itu beliau enak; hangat peluknya, kasih sayangnya, masakannya, pembelaannya, dongeng sebelum tidurnya, wanginya, bahkan omelan yang paling menjengkelkanpun menjadi sesuatu yang paling dikangenin. Apapun itu. Semuanya enak.

Tapi Ibu yang ditinggal mati anaknya, sedihnya menyangkut perjuangan dan nyawanya. Segaenak apapun kita, beliau memiliki, merasakan semuanya. Semua rasa, seluruh jiwa. Jadi....

"Dek, diperiksa lagi ya!" Kata perawat. Aku diam. Suhu badan 36,9°c dan tekanan darah 110/60. Normal.

"May, ini hasil lab. Hemoglobin normal" Kata Kak Mutek sambil menyerahkan selembar kertas dan sekresek obat. Ini obat, kenapa bisa banyak gini?.

"Itu kenapa buibu?" Bisik kak Mutek.

"Anaknya mati, masih bayi.  Pasti lagi lucu"

"Kenapa kamu? Kok diem?" Tanya Farki.

"Kak, aku gajadi sakit" jawabku. Farki ketawa. Kak Mutek juga.

"Kenapa dia?" Canda Kak Mutek.

"Duh iyah, Ibunya kasian!"

"Hahaha, liat wajahnya, Sayang. Langsung berubah!"

"Kata Dokter,  karena ga muntah lagi dan demam sudah turun jadi uda boleh pulang!"
"Ayok dah kak! Aku gamau lama-lama di sini. Takut" Ajakku dan beranjak dari kasur.
"Kenapa anak ini"

-----

Sesampainya di rumah aku langsung menuju wetafel dan muntah, badan kembali demam. Lemas.

"Lah, kenapa lagi?"

Dokter bilang selama dua minggu ke depan disarankan puasa dulu jalan-jalannya atau naik gunungnya. Aku harus bedrest dan jadi anak kalem rumahan. Oh lambung, made my day.

You May Also Like

41 komentar

  1. Aku pernah di UGD, nemenin nenek. Serem tauk! Sebelah2 pada meninggal, untung nenek keluar UGD sehat

    Ndak lagi2 deh, nggak usah lagi2 ya mbak ya 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah gausah lagi...
      Serem emang bikin speachless

      Hapus
  2. jangan terlalu terforsir ya mba, biar tdk capai sehingga bisa ngeblog terus

    BalasHapus
  3. jangankan tiga jan di UGD say, satu jam aja banyak cerita memilukan juga menakutkan,
    oho jadi bukan karena virus ya, sakit lambung alias magh semoga sehat selalu ya
    jangan sakit lagi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha maaci say!

      Iyah menyeramkan dan memilukan... ngeri pokoknya

      Hapus
  4. Aku juga kadang kalo udah capek terus berasa mau sakit suka mengabaikan gitu.
    apalagi kalo udah ngelakuin sesuatu yang aku suka,
    pasti deh bisa lupa diri, tau-tau besoknya sakit :(

    tapi sejauh ini aku ga pernah ke UGD dan semoga ga pernah kesana.
    aku takut jarum infus segede semut raksasa itu :(

    BalasHapus
    Balasan

    1. Kita mah gitu banget emang yaaaaa, kalo keasyikan suka khilaf

      Hapus
  5. Moga segera sehat & bisa beraktifitas seperti biasa, "ziarah" ke UGD'y moga yg pertama & terakhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ammin..
      Maaciiii kakaaaaaa
      Iyaaajj. Emoh pokoknya masuk UGD lagi

      Hapus
  6. Dokternya budek kali mba jhahah....
    Melihat ibu kehilangan seorang anak,, pastinya sedih banget,, mungkin tak sesedih anak kehilangan ibu,,, tapi yang namanya kehilangan itu menyedihkan,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha

      Dokternya makjleeebbbbb menuduhnya

      Hapus
  7. duh jadi inget pas kecelakaan dulu
    di UGD, 2 orang sebelahku udah wassalamualaikum
    pikir gue : Pasti bentar lagi Malaikat Izroil njemput gue

    istrihat mbak, libur dulu mainnya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti ceritamuuu seruuu banget itu.


      Iyaahh minggu ini istirahat, minggu depan pecicilan lagi. Hehehe

      Hapus
  8. Bacanya ikut merinding horor. JAga kondisi Mbak :) salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaahhh buibu yang ditinggal mati dekbaynya yang bikin horror buk

      Hapus
  9. club rotary bali?
    saya dulu gabung yang jakarta, sempet ikut nulis antologi jakarta :)

    btw, bacanya sedih mbak
    moga cepet sembuh ya...
    harta termahal di dunia itu ada 3: kepercayaan, keluarga, dan kesehatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..
      Aku rotaract club nyaaaaa....
      Kaann masih muda mmmmmm:')

      Hapus
  10. kalau sakit dibawa bercanda cepat sembuh ya..! Bayangkan saja 3 jam saja semuanya sudah beres.
    Semoga penyakit yang diderita benar-benar Husss minggat...!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha

      Haiiii penyakit hempaaasssss kauuuu

      Wkwkwkwkw

      Hapus
  11. Duh sedih baca postingan kamu :(
    Tapi aku ketawa pas bagian ngobrolin kucing hehe.

    Semoga kamu cepet sehat ya, May.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaci kakaaaaa....

      Aku uda sembuh dan siap pecicilan lagi. Hehehe

      Hapus
  12. Wah, kok bisa sampai masuk ugd?

    Belum lama ini aku juga abis sakit. Sempet takut kena gejala tifus. Untung ternyata cuma gara2 kebanyakan makan gorengan. Jadinya radang.

    Emang. Sakit di rantau itu gak enak! BANGET!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ujan2 emang paling nikmat rakusin gorengan emang. Mmmmmm


      Uuuu iyah ga enak banget sakit dirantau, pengin manja-manja gabisa, malah kudu tetep dituntut kuat dan mandiri. Huhuhuhu

      Hapus
  13. Wah, jadi terharu baca tentang kakek yang sendirian dan ibu yang kehilangan anak :( Semoga kakeknya cepat ada yang menjemput dan ibunya diberi kekuatan, amen... Aku lumayan sering bolak-balik UGD. Memang ya kalau pas lagi 'ramai' ada aja kejadian yang heart breaking :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ka Indi..
      Aku doai ga bolak-balik UGD lagi. Sehat teruusss

      Hapus
  14. Belajar banyak dari di RS yang hanya beberapa jam ... semoga makin rajin ke pengajian dan tau kapasitas tubuh

    BalasHapus
  15. Bahaha. Belum pernah diinfus nih gue. Gak tau rasanya kayak gimana. Sedih deh di bagian yang bayi meninggal. Jadi inget adik gue. :')

    Cepet sehat ya, May! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampe deh Yog.
      Pokoknya kamu sehat teruslah.
      Hahaha
      Maaciii yaw. Uda sehat kok aku

      Hapus
  16. Dalam waktu hanya 3 jam sudah banyak hal yang terjadi yah :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan jangan sampe lebih lama ato kesana lagi deh.
      Hehehehe

      Hapus
  17. sumpah saya malah penegen ketawa, bukannya kasian gitu. habisnya banyak adegan yang lucu sihh. salah satunya dokternya budek itu. udah tahu single. masih aja ditanya. "Loh, adeknya belum merid kan?" Yah, belomlah! Jangan menghina single, Dok!, hahahah. kalau belum sembuh semoga lekas sembuh ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa.. semoga eykeee lekas merit yaaa cyinnn. Biar gamerasa terhina lagi ketika ada yang nanya gituan. Mmmm

      Hapus
  18. Haha ngakak abiiss pas kucing di solawatin :D kayaknya cocok tuh jadi pelawak

    BalasHapus
  19. emang anak kostuh pedihnya pas sakit :(

    BalasHapus