Kucing Yang Bernama Pacar

by - Minggu, Oktober 08, 2017

Kucing Yang Bernama Pacar

Nata masih ingat saat Dinda datang kala gerimis sore itu. Tiga hari sebelumnya, komunitas peduli hewannya menemukan anak kucing yang terlantar di jalan menuju pantai Nyang Nyang di semak-semak dengan badan yang dipenuhi permen karet, dia begitu ringkih. Seorang temannya, Ani menghubungi Dinda apakah dia mau mengadopsinya. Dengan senang hati Dinda bersedia, dan anak kucing itu diobati terlebih dahulu oleh Nata di kliniknya.

“Mmm.. dokter Nata ya?” Sapa Dinda penuh senyum. Senyumnya sangat manis dan hangat.

“Pacarku mana? Uda sehat kan? Kata Ani, aku disuruh ngambil ke sini. Bener kan?” Lanjutnya. Nata mengerutkan keningnya, tidak mengerti, lalu dia menggeleng.

“Pacar?” Tanya Nata. Dinda mengangguk pasti.

“Iyah, anak kucing yang kemaren ditemukan dan perlu diadopt. Kata Ani dia jantan, ya udah aku kasih dia nama Pacar” Jelas Dinda. Nata memijit kepalanya yang tidak sakit sambil tersenyum. Bukan hanya wajah Dinda yang lucu, tapi orangnyapun lucu. Hatinya seperti terasa begitu akrab dengan Dinda, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu. Terima kasih Ani telah membuat Dinda datang tiba-tiba ke kliniknya, ucapnya dalam hati.

“Oh uda! Mau dibawa sekarang?” Kata Nata. Dinda mengangguk. Nata mengajak Dinda ke ruangan dimana Pacar berada. Pacar, seekor anak kucing hitam jantan yang mungkin dibuang oleh pemiliknya dan umurnya kira-kira masih satu bulan. Kondisinya sangat mengenaskan saat ditemukan. Kondisinya sangat lemah dan sekarat, mungkin karena terjebak permen karet dan sudah berhari-hari tidak makan dan sempat diguyur hujan.

“Dia botak. Bulunya aku cukur, karena lengket oleh permen karet” Jelas Nata. Dinda menyolek-colek Pacar dari lubang kandang. Pacar menempelkan wajahnya manja.

“Biarin aja botak, yang penting ganteng. Yak an, Pacar kesayangan aku” Saut Dinda. Nata tersenyum lagi.

Tiga hari lalu, saat Ani menghubungi Dinda, menanyakan tentang apakah dia mau mengadopsi anak kucing, dan menjelaskan bagaimana keadaanya si anak kucing, tanpa pikir panjang dia menyetujuinya. Dia sudah lama menginnginkan piaraan. Mamahnya sudah mengajaknya ke petshop terdekat untuk memilih binatang atau kucing apa yang dia mau. Nyatanya ngga ada yang menarik perhatiannya. Tapi begitu Ani menawarkan dan menjelaskan, bahwa mungkin si kucing akan menjadi sangat jelek karena akan dicukur dan mejadi botak, Dinda bilang itu ngga apa-apa. Dia sudah merasa tertarik bahkan sebelum melihatnya. Apakah itu namanya cinta? Seperti halnya Mamah yang sudah mencintainya, bahkan sebelum melihat dia lahir ke dunia. Maka dari itu langsung saja dia beri nama si anak kucing itu Pacar. Esoknya, team dari komunitas peduli hewan datang ke rumahnya untuk menyurvei apakah dia layak untuk memelihara hewan piaraan, dan dinilai layak. Dinda saat itu sangat senang dan ngga sabar untuk segera bertemu dengan Pacar, ingin segera menjemput Pacar di klinik dimana dia diobati, ingin lekas diabawa pulang dan dipeliharanya dengan sayang.

“Kenapa namanya Pacar?” Tanya Nata penasaran.

“Karena aku ngga punya pacar, tapi sekarang aku punya Pacar” Jawab Dinda dan cukup membuat Nata tertawa. Dia suka Dinda. Sungguh. Dia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Dari awal melihat Dinda dia sudah tertarik, selain dia cantik, senyumnya manis dan hangat, suaranya lucu dan sikapnya.. oh sungguh, dia benar-benar jatuh cinta dengan Dinda.

“Oke, jadi kamu mau bawa pulang dia sekarang? Kamu bawa tas kucing? Atau kandangnya, mungkin?” Tanya Nata. Dinda menggeleng.

“Kata Ani, klinikmu tutup di jam enam dan kamu bawa mobil, dan kata Ani lagi, rumahmu melewati rumahku. Jadi, tadi aku ke sini naik ojek online, niatnya sama Pacar nebeng sama kamu sekalian. Jadi gitu.” Jelas Dinda. Nata mengangguk sebagai jawaban Ok. Hah, senangnya bisa nganterin Dinda pulang. Sorak Nata dalam hati.

Dan saat itu, gerimis yang perlahan menjadi hujan, senja dan jalanan Bypass cukup macet, Nata mengantarkan Dinda pulang, tentunya bersama Pacar. Mereka sempat bertukar nomer whatsapp dan saling mengikuti di akun instagram. Nata bilang, Pacar masih perlu perawatan beberapa kali, karena ada luka di kaki belakang sebelah kanan cukup parah. Untuk masalah biaya sampai si Pacar sembuh gratis. Karena itu adalah program dari komunitas peduli hewannya. Ani adalah adik tingkatnya di kampus tempat dia belajar dulu, dan kata Dinda, dia dan Ani adalah teman saat di sekolah menengah bawah dulu. Dinda banyak cerita saat di mobil, dia sangat cerewet dan lucu menurut Nata. Ada saja yang dibahas, termasuk Film.  Pinguin Madagascar yang sudah berkali-kali dia tonton tapi ngga pernah bosan.

“Mereka itu lucu banget, dok” Cerita Dinda antusias. “Aku tuh suka menghayal, aku berharap pas di chapter terakhir, saat dilaserkan laser untuk membuat imut kembali penguin-punguin, aku terkena lasernya, biar aku jadi imut seperti mereka” Lanjut Dinda. Nata tertawa. Dia pengin bilang ke Dinda, bahwa dia ngga butuh laser itu karena dia sudah imut, tapi yang keluar dari mulutnya hanya, “Terus?” Tanya Nata antusias.

“Ah cape, haus. Minum dululah” Kata Dinda, mengambil botol air Tupperware kecil dari tasnya, meminumnya lalu menarik napas. Nata hanya menggeleng, tersenyum melihat tingkahnya.

“Kata Ani, makanya aku ga punya pacar. Abis masih suka Pinguin Madagascar” Keluh Dinda setelahnya.



“Hahahaha. Ani ngaco”


“Iyah, padahal ga punya pacar belum ada yang menarik aja. Eh ngga tau juga”

“Hahahaha… jadi kamu sibuk skripsi nih sekarang kayak si Ani”

“Ga, sibuk poto-poto doang sih sekarang. Lagi suka aja, masih males garap, belom ada inspirasi”

“Kelakuan anak PS Fotografi banget ya” Kata Nata menghakimi. Dinda tersenyum dan menjawab “Ngga semuanya, mungkin aku aja yang pemalas. Hehehe”.

Kemudian mereka menjadi akrab. Keadaan Pacar dan lukanya segera membaik, karena Dinda merawatnya dengan baik dan sangat mengikuti saran-saran dari Nata. Kecuali bulu Pacar yang sangat lama tumbuh. Sebenarnya Mamah jijik dengan Pacar yang botak, tapi entah, dia pasrah, karena Dinda begitu sayang dengan Pacar. Bahkan Pacar setiap malam harus tidur di kamar Dinda. Si Pacar bisa bebas nakal saat Dinda kuliah saja. Mamah suka heran dengan Pacar, dia terlihat begitu pasrah kalau Dinda suka memeluknya gemas tanpa perlawanan.

“Nanti Pacar bisa mati gegara ga bisa napas kamu aniaya” Tegur Mamah, tapi Dinda ga pernah peduli dan selalu menyangkal “Siapa yang aniaya Pacar sih, Mah? Ini itu pelukan sayang tau”.

Dinda anak tunggal, dari orang tua tunggal. Papahnya sudah lama meninggal saat dia masih duduk di bangku SMA dulu. Mamahnya mempunyai usaha Wedding Organizer yang cukup ternama, yang membuatnya tidak pernah kesusahan dalam masalah finansial meskipun statusnya single parent.

Dan Nata, perasaannya semakin hari semakin besar dengan Dinda. Maka dari itu, semakin Pacar besar dan lincah serta sehat, semakin jarang Dinda berkunjung ke kliniknya. Membuat Nata sangat rindu dengan Dinda. Dia sering kepo akun insta Dinda atau sekedar say hello via whatsapp.

Sebenarnya dia ingin melakukan aksi PDKT ke Dinda, seperti mengajaknya pergi nonton atau sekedar makan malam misalnya. Tapi dia ngga mempunyai nyali untuk melakukannya. Dan sepertinya Dinda ga ada perasaan lebih ke dia, Dinda seperti ngga punya perasaan yang sama terhadapnya. Sikapnya Dinda ga berubah, masih sama saat seperti pertama kali mereka bertemu dulu, yang kalau bertemu masih rame dan suka banyak cerita, termasuk masih suka cerita bahwa dia masih suka Pinguin Madagascar.

Nata pengin kepo tentang Dinda ke Ani, tapi malu. Dia sangat bingung dan merasa serba salah mau bagaimana, dia ingin Dinda.

Hingga suatu hari Dinda menelponnya.

“Dokter Nata, besok aku wisuda. Dokter bisa datang ga sebagai dokter yang udah baik hati ngerawat Pacar?”. Ah, mimpi apa Nata semalam. Seperti mendapat Durian runtuh.

“Oh bisa kok. Dimana? Jam berapa, Din?”

“Nanti aku wassap ya tempat, alamat dan jamnya” Jawab Dinda.

“Oke”

Lalu, hari itu adalah hari yang membahagiakan bagi Dinda, setelah kuliah selama enam tahun. Dengan perjuangan keras melawan rasa malas menyelesaikan skripsi. Tapi hari itu yang paling bahagia adalah Nata. Dia merasa terhormat mendampingi Dinda, yang di acara itupun dia tersenyum lucu bahwa Dinda dengan bangga menggendong Pacar yang mengenakan jas, yang dibuat khusus untuk acara wisuda saat itu. Nata hanya tersenyum. Mamah hanya menggeleng, maklum dengan kelakuan Dinda yang sangat menyayangi Pacar.

“Gitu dah, dok, kelakuan Dinda, ngga mau lepas dari si Pacar. Padahal setelah dua tahun dari dibawa ke rumah dulu, si Pacar masih juga burik, ga punya bulu, dielus-elus juga males, abis kasar, bulunya kependekan, item pula” Curhat Mamah.

“Hahaha” Hanya itu saja tanggapan dari Nata. Nata memberi Dinda sebucket bunga mawar merah. Tolong dicatat, mawar merah, sebagai tanda bahwa dia cinta Dinda dari pertama dulu, dari dua tahun lalu, saat Dinda datang ke kliniknya di sore yang gerimis. Dan saat Dinda menerimanya, dia hanya mengucapkan terima kasih saja. Sepertinya dia ngga ngerti bahwa itu kode Nata. Dia seperti nampak biasa-biasa saja.

Di akhir acara, si Ani datang.

“Yah Ani, kenapa terlambat. Uda mau pulang. Tapi kita mau lanjut di rumah, bakar-bakar ikan sama dokter Nata, sama yang lainya juga” Kata Dinda.

“Duh Din, sorry, tadi aku cukup sibuk sama kerjaan” Kata Ani.

“Hi, dok. Gimana kabar?” Sapa Ani. “Baik” Kata Nata.

“Ya udah, lanjut di rumah, yuk. Si Pacar uda ga sabar makan ikan. Iya kan Pacar? Mmm.. Pacarku sayang” Kata Dinda sambil mengelus kepala Pacar. Pacar hanya diam, menatapnya sayu, manja, tidak mengeong.

“Hah, Pacar mah modus. Kalau Dinda ngga ada galak dia, An. Nakal, suka berantakin rumah. Giliran Dinda ada sok kalem, sok polos” Kata Mamah kesal sambil memukul pelan kepala Pacar. Pacar mengeong galak. Dinda cemberut.

“Apa sih, Mah? Usil aja loh!” Protes Dinda. Ani dan Nata hanya tertawa melihat kelakuan mereka.
_____

Dan sekarang, Dinda datang dengan muka paling sedih dengan membawa pacar yang penuh darah di sore yang gerimis, sama seperti saat kali pertama dia datang, bedanya tidak ada senyum hangat disana, hanya ada kesedihan. Nata cukup kaget, dan langsung mengerti, segera dia membawa Pacar ke dalam ruangan, meminta Dinda menunggu di luar. Satu jam kemudian Ani datang, menyapa Dinda sebentar kemudian masuk ke dalam ruangan Nata. Dinda sangat bingung. Dia hanya bisa berharap Pacar baik-baik saja.

“Aku pulang, dan dia sudah ada di sana, Sis” Kata Dinda membuka percakapan dengan Siska, recepsionist di Klinik Nata. Siska mengelus bahunya. Siska ngga tahu harus menanggapinya apa, dia sangat tahu Dinda yang sangat sayang dengan Pacar, dan dia juga tahu Nata yang diam-diam suka Dinda, dari dulu sampai sekarang.

“Dia uda tergeletak penuh darah, napasnya uda tersenggal-senggal, ngga tahu dia uda berapa lama disana, keujanan” Kata Dinda lagi sesenggukan. “Lima tahun kita sama-sama. Udah banyak hal yang uda kita lakuin sama-sama. Aku sayang banget sama dia, Sis” Lanjut Dinda.

“Pacar juga sayang sama Dinda kok. Pacar bakal baik-baik saja” Hanya itu yang keluar dari mulut Siska.

Pukul Sembilan Nata dan Ani kelkuar dari ruangan. Nata menggeleng, memberi kode ke Siska bahwa Pacar ga selamat. Pacar terluka sangat parah, jeroannya hancur, mungkin motor melindasnya.

Siska pergi saat Nata menghampiri Dinda dan duduk di sebelahnya. Dinda menoleh kea rah Ani yang masih berdiri lemas di depan pintu ruang, dimana mereka sudah berusaha menyelamatkan Pacar, mengoprasinya, dan pacar ngga selamat, Ani hanya bisa menggelengkan kepalanya sedih. Dan Dinda mengerti apa maksudnya. Dinda menangis, hatinya remuk, semua kenangan tentang Pacar langsung berkecamuk dalam kepalanya.

“Apa kamu butuh pelukan?” Kata Nata menawari. Dinda tidak menjawab, dia langsung memeluk Nata sambil menangis sesegukan. Di luar hujan sangat deras sama seperti air mata Dinda. Nata membalas pelukan Dinda, membiarkan air mata Dinda membasahi bagian bahu jas putihnya. Di saat yang sama, Nata ngga tahu, sebenarnya yang butuh pelukan siapa? Dia atau Dinda?.


“Pacar sayang sama kamu, Din. Seperti halnya aku sayang kamu dan semua sayang kamu!” Nata ngga peduli, apakah dia mengungkapkan perasaanya di saat yang tepat atau tidak. Hanya itu yang bisa dia katakana saat ini. Dinda masih menangis dalam pelukan Nata. Dan di luar, hujan masih deras.

You May Also Like

0 komentar