Friendzone

By Mayasitha Arifin - Sabtu, Januari 27, 2018

“Cowo itu brengsek, makanya aku ga suka. Aku suka kamu” Katamu suatu hari. Aku menatapmu aneh. “Kamu juga?” Tanyaku dalam. “Apa?” Kamu mengerutkan keningmu tak mengerti dengan apa yang aku tanyakan.”Brengsek?” Jelasku. Dan kamu tertawa kemudian mengangguk mantap. Berarti aku sedang mengencani cowo brengsek?. Kita tidak butuh pacaran, begitu katamu, tapi kamu sering bertanya kepadaku “Kenapa kamu ga pacaran?”.

 “Karena belum menemukan yang tepat aja!” Jawabku sekenanya.

“Aku kira kamu takut”

“Aku mau pacaran sama kamu, tapi kamu ga bisa aku pacarin”

“Maaf, karena aku ga bisa jadi apa yang kamu mau” Kemudian kamu memelukku penuh sesal. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang aku rasakan sama terhadapmu, jatuh cinta sekaligus terluka. Lalu apakah kita yang tanpa nama?. Kamu bilang “Nikmati saja kita selagi bisa, yang pacaran belum tentu bisa menikmati moment pacaran itu sendiri, karena mereka terlalu sibuk”.

“Sibuk apa?” Tanyaku.

“Sibuk dengan pacaran dan menuntut hal lebih” Dan aku tersadar, aku ataukah kamu yang dalam ketakutan akan suatu status hubungan. Tetapi kita begitu sederhana dalam menjalani selama beberapa bulan ini bukan? Mengapa terlihat begitu rumit? Atau aku saja yang berprasangka buruk terhadapmu?.

“Aku mudah jatuh cinta” Ceritamu.

“Aku Tahu. Aku tahu kamu ga bisa berkomitmen. Kita sudahi saja kita?!” Aku bahkan ga mengerti dengan apa yang aku sedang bicarakan. Kita bahkan ga ada hubungan apapun bukan?

”Jangan!” Dan semua terasa semakin sama, antara cinta dan terluka. Lalu perasaan ini dinamakan apa?. Aku bahkan lupa bagaimana aku bisa terjebak bersamamu. Di kencan ketiga di sebuah restoran ternama di Kuta. Selama ini aku hanya terlalu terlena, terlena oleh rasa nyaman dan bahagia. Kamu juga merasakan hal yang sama bukan?. Kita seperti ‘ya udah jalanin aja’. Bukan tanpa rasa di sana, tetapi kita sama-sama merasakannya, merasakan sebuah perasaan yang sama. Kita jatuh cinta dan terlalu takut akan suatu hubungan yang berkomitmen. Tunggu, aku rasa bukan aku yang takut. Tapi kamu. Setelah perceraianmu dengan mantan istrimu lima tahun lalu, kamu masih merasa kosong dan tidak ingin mengisinya dengan seseorang yang lain untuk menemani hidupmu. Kamu bisa menemukannya di Tinder hanya untuk teman satu malam. “Itu asyik, kan?” Katamu suatu hari. Aku diam, karena aku ngga tahu apa jawabannya. Itu bukan pertanyaan, itu sebuah pernyataan tentang betapa hampanya hidupmu.

Aku suka kamu yang sibuk, mungkin sebelum bertemu kamu aku pernah terjebak dalam suatu hubungan yang posesif, dimana mantanku sangat cemburu dan membatasi ruang gerakku. Jadi saat bertemu kamu, Mr. Workholic yang supersibuk di kedai kopi sesiangan waktu itu-saat kamu sedang pening menyelesaikan design ruangmu yang sudah dikejar deadline-kamu menyapaku iseng dan tiba-tiba semuanya larut dalam percakapan-percakapan yang membuatku-kita saling tertarik satu sama lain-membuatku suka begitu saja kepadamu, aku pasti akan mempunyai banyak ruang saat aku dengan kamu, pikirku saat itu dan memang benar. Jadi, kita tidak sama-sama sekali, kita sangatlah berbeda  dan berakhir dengan masalah yang sama, mmm, tentang hubungan? Aku masih saja belum tahu nama apa yang tepat untuk kita. Kita lewati saja bagian itu.

“Tan?” Katamu pelan.

“Ya?”

“Sebagai asisten pribadi Bossmu, kamu memang sudah seharusnya menuruti semua kata-katanya. Jangan terlalu memanjakan karyawan lainnya hanya karena kamu kasihan. Profesionallah!”

“Entah, tapi kadang aku lelah”

“Aku workaholic, aku suka kerja dan pekerjaanku. Mungkin karena itu waktuku dengan orang yang aku sayangi jadi berkurang, makanya pada suatu hari dia meminta cerai. Aku bahkan ngga pernah memikirkan perceraian. Karena dia selalu meminta makanya terjadilah. Aku sukses di pekerjaanku, tapi mungkin itu pengorbanannya. Kamu mengerti, kan maksudku?!” Jelasmu sambil menatap arah jam satu kosong. Kamu sedang mengenang?. Aku diam, tak menjawab apapun.

“Mungkin kamu mengorbankan sedikit perintah bossmu dan kamu baik-baik saja dengan karyawan lainnya. Selalu ada saja yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu bukan?”

“Kalau begitu aku ingin mengorbankanmu” Kataku begitu saja. Kamu menatapku tidak mengerti. “Entah. Aku ingin mendapatkan sesuatu yang lebih. Yang lebih dari pada kamu” Lanjutku, kemudian hening.

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Ini ceritanya duda ketemu gadis kah? saya sedikit agak bingung. Tapi emang hal seperti itu wajar. Gadis maunya diperhatikan dan disayang. tapi sang duda trauma dengan masa lalunya sehingga dia hanya mau pacaran tanpa ada ikatan. Walau sebenarnya ada rasa cemburu juga.

    BalasHapus
  2. Pas baca pembukannya seolah2 aku setuju banget. Hahaha
    Bacanya pakai intonasi tinggi yak. Ckck

    BalasHapus
  3. Ini nih 2 type karakter berseberangan 😁
    Yang cowok menyikapi cinta dengan santai,apa adanya .... , yang cewek maunya manis manja,diperhatiin mulu 😁

    Jadinya acara ngambek2an ala sinetron terjadi deh 😂

    BalasHapus