Love Me If You Dare Movie 2003

By Mayasitha Arifin - Jumat, Februari 09, 2018

(Gambar diambil di google)

Setelah sekian lama ngga nge-review film, kali ini aku akan mencoba untuk membahas film yang baru saja aku tonton. Aku nonton banyak film omong-omong, tapi sejauh ini, ini film sepertinya cukup layak buat aku bahas di kesempatan kali ini. Awalnya aku pengin membahas Boyhood 2014, film panjang yang sangat amat menarik, tapi, ya sudahlah, ini saja dulu.

Apakah aku suka dengan film drama romantis ini? Engga, sebenarnya ngga, bagi aku ini bukan film drama romantis yang bikin baper kayak Dilan atau The Theory Of Everything-nya Stephen Hawking, atau La La Land, bagiku ini cuma drama orang-orang ngehek, tapi bisa aku bilang film ini lucu, aku suka plotnya, aku bahkan bisa menikmati bagaimana keseruan mereka dalam bermain sebuah tantangan; Berani atau ngga?.

Berkisah tentang dua sahabat masa kecil, yang bercerita di sini adalah tokoh Julien (Guillaume Canet), di sini Julien menceritakan bagaimana persahabatannya dengan Shopie (Marion Cotillard). Persahabatan dari dua kehidupan yang berbeda, Julien dari keluarga baik-baik saja, dan Shopie, dia semacam anak urban ilegal dan bukan dari keluarga kaya. Persahabatan penuh imajinasi, nakal lagi polos, dan sama-sama psikopat.

Bermula dari sebuah kotak kaleng kecil dimana kaleng itu dilukis dan terlihat seperti mainan komidi putar dan barang siapa yang memegang kotak itu dialah yang memberi tantangan. Permainan ini berlangsung dari mereka masih duduk di sekolah dasar dan berlanjut hingga mereka besar kemudian menjadi sesuatu yang rumit. Ya itu, tentang cinta lagi, cinta lagi. Bisa dibilang permainan ini menyebabkan mereka terjebak di lingkaran friendzone paling ngehek.

Jadi, waktu itu Ibu Julien meninggal dan satu-satunya hal yang bisa membuatnya tersenyum kembali adalah Shopie. Bapak Julien yang sebenarnya ngga suka Shopie, tapi dengan terpaksa meminta Shopie untuk menginap di rumah Julien, semata-mata untuk membuat Julien senang supaya tidak bersedih lagi dengan ibunya yang baru saja mati, ngeheknya, hal ini berlanjut sampai mereka besar, sampai mereka duduk di bangku kuliah. Mereka pacaran? Sama sekali ngga! Mereka masih seperti kecil saat mereka masih 8 tahun, bermain, dengan permainan yang sama dengan kotak kaleng kecil dengan gambar komidi putar; Berani atau ngga?.

Si Shopie sebenarnya suka memancing si Julien buat mengungkap bahwa Julien ini sebenarnya cinta sama dia, tapi, ya gitu, berakhir friendzone lagi, friendzone lagi. Sampai akhirnya Shopie jengah dan memutuskan untuk pergi dan bertemu setahun lagi, tapi mereka bertemu kembali empat tahun kemudian, dan masih terjebak di lingkaran yang sama, friendzone.

Di pertengahan film aku sempat ngerasa stuck, tapi menjadi seru kembali saat Julien mendatangi Shopie empat tahun kemudian (itu) dan mengajaknya makan malam, membahas seusatu yang penting, yaitu pernikahan, dan pernikahan ini adalah pernikahan Julien dengan orang lain, bukan dengan Shopie, dia hanya meminta Shopie untuk menjadi pendamping pengantin. Tentu saja hal ini membuat Shopie bete. Dan tentu saja yang Shopie lakukan adalah bikin trouble pada hari H. Ini membuat hubungan Julien dan Bapaknya, yang emang dari awal ngga suka Shopie marah besar. Akhirnya Shopie pergi lagi dan memberi tantangan untuk bertemu sepuluh tahun kemudian.

Yang terjadi sepuluh tahun berikutnya adalah dan itu bukan waktu yang sebentar jadi selama sepuluh tahun itu mereka berdua menjalani kehidupan masing-masing, seperti menikah dan punya anak. Tapi yang punya anak hanya Julien, sementara Shopie belum. Tepat di tahun yang mereka janjikan tiba, akhirnya, ini adalah permainan terakhir mereka, yang berakhir dengan bunuh diri bersama. Hahahaha...

Oke, baik, mungkin kalian yang baca review ini agak bingung dan bete juga, tapi serius, film ini cukup lucu buat dipakai seru-seruan saat lagi bete. Satu-satunya di film ini yang bikin baper adalah lagu yang dipakai adalah La Vie En Rose-nya Loise Amstrong. HAH?!

Aku suka tokoh Shopie di sini, menurut aku dia cewe yang sangat berani, tapi Juliennya yang letoy dan loser.

Aku juga suka salah satu dialogue polos di scene saat mereka masih kecil;

Sophie : What'll you be when you grow up?
Julien : A tyrant!
Sophie : A tyrant? Your people subjugated?
Julien : Totally! With a harem, slaves, and torture every Thursday!
Sophie : Cool!
Julien : And you?
Sophie : Well, I... No, it's too dumb.
Julien : Tell me!
Sophie : You won't like it.
Julien : I told you! Tell me!
Sophie : I'd like to be a cream puff. A cream puff with apricots, or even a plain one. Lukewarm at the bakery. In the window.
Julien : A cream puff? As in cake?
Sophie : Of course! What else! A cream puff is a cream puff!
Julien : A cream puff... Yeah, of course, a cream puff! That's brilliant!

Dan, aku anggap ini quote yang lucu yang ada dalam film ini;  
"Friends are like eyeglasses. They make you look smart, but get scratched and then bore you. Luckily, sometimes, you get super cool glasses. Me... I've got Sophie!" Julien 8yo.

Well, guys, kayaknya kalian juga harus nonton film ini, dan nikmati setiap permainan `ke-friendzone-an` mereka yang geloooo!




  • Share:

You Might Also Like

9 komentar

  1. Jadi pengin noton film ini deh, meluncur langsung streamingan😂

    BalasHapus
  2. kebetulan lagi suntuk dan nyari rekomendasi film menarik.

    BalasHapus
  3. Si Julien ikan y? Kok dipancing sama Sophie?

    BalasHapus
  4. Seru banget filmnya. pengen nonton ah

    BalasHapus
  5. Friends are like eyeglasses
    yeh It is true
    aku cari donlotan dulu

    BalasHapus
  6. Yah,. . Kenapa akhirnya bunuh diri bersama? Jadi penasaran pengen liat filmnya. Hehe

    BalasHapus
  7. Kagak ada adegan cipok-cipokannya? Yahhh gak seruuu

    BalasHapus
  8. ini film lama banget yaaa..nonton ini pas masih SMP dan kadang masih nggak habis pikir ada ya cinta kayak gitu, hihi. Kadang cinta memang rumit, ckckck, hahaha

    BalasHapus