A Monster Calls, Review Movie (2016)

by - Jumat, Maret 17, 2017


Aku ga tahan buat ga nge-review film ini. The best film ever. Aku punya beberapa film yang benar-benar masuk list film fav aku-kayak- diurutan nomer satu ada Shawshank Redemption (1994), kemudian ada The Silence of The Lambs (1991) di nomer dua dan film ini diurutan nomer tiga.

Film ini diadaptasi berdasarkan novel karya Patrick Ness dengan judul yang sama.

Menceritakan tentang anak laki-laki dua belas tahun, Connor O'Malley (Lewis McDougall) hidup dengan beban yang berat: broken home, jauh dari Ayah dan tinggal bersama Ibunya (Felicity Jones) yang menderita penyakit kronis serta neneknya (Sigourney Weaver) bukan tipe nenek-nenek yang hangat seperti nenek-nenek kita. Neneknya kaku, dingin dan ga suka basa-basi.

Di sekolah Connor bukan tipe anak populer atau pintar. Dia tipe anak yang biasa-biasa aja, dia bahkan terlalu pendiam dan menjadi, mmmm, kayak ga terlihat gitu di kalangan teman-temannya. Hal ini membuat dia jadi bahan bully Harry (James Melville) dan gengnya. Hampir setiap pulang sekolah dia dipojokan dan mendapat beberapa pukulan dari Harry dan gengnya ini. Connor tidak pernah melawan hanya membalas mereka dengan tatapan dingin.

Connor suka sekali menggambar dan dia selalu dihantui mimpi buruk.

Justru hal-hal tersebutlah yang secara tidak sengaja memanggil monster.

Monster di film ini seperti Groot dalam film The Guardian of Galaxy. Hanya saja lebih besar dan matanya berapi. Dia datang saat jam menunjukkan pukul 12.07. Dan dia datang untuk menceritakan Connor tiga dongeng yang secara ga langsung merubah cara berpikir dalam menghadapi hidupnya.



Tiga dongeng ini semuanya berisi pesan moral yang mengena.

Sang monster datang untuk mengajarkan Connor dengan tiga dongengnya kayak kisah Khidir mengajari Musa dengan tiga kejadian yang dilalui dalam perjalanannya. Tapi ini beda banget kok ga sama.

Bukan tentang kejahatan dan kebaikan tapi antara keduanya. Bukan tentang kejujuran dan kebohongan, tapi antara keduanya. Bukan tentang kehilangan dan menemukan, tapi antara keduanya. Bukan tentang akhir dan awal, tapi antara keduanya.

Imajinasi ceritanya dapet banget-kayak, saat sang monster menceritakan dongennya digambarkan dengan animasi goresan seperti di buku anak.

Film ini beda banget sama film monster dan anak kecil pada umumnya, dimana anak kecil diajak bermain ke negri monster atau monster raksasa baik dan bersahabat atau melawan monster yang jahat. Pokoknya beda.



Adegan-adegan di film ini juga ga drama banget, ga nangis termehek-mehek misalnya dalam keadaan yang sulit untuk ukuran anak dua belas tahun, tapi dari ekspresi sang aktor cukup mengutarakan perasaan yang tersimpan.



Pokoknya film yang disutradarai oleh J A Bayona ini benar-benar top banget. Film ini ditayangkan perdana di Festival Film International Toronto pada 10 September 2016. Dan mendapatkan rating 84%.

Jujur, film ini bikin perasaan jadi luar biasa, karena menyuguhkan cerita secara bulat ga pipih- bagaimana manusia ga jahat-jahat banget dan ga baik-baik banget juga.

Seperti biasa aku ga akan detail menceritakan plotnya, biar makin penasaran buat lihat langsung filmnya. Ga lupa di film ini banyak quotes yang menarik, dan yang paling menarik bagi aku adalah:



Monster: Because humans are complicated beasts. How can a queen be both a good witch and a bad witch? How can a prince be a murderer and a saviour? How can an apothecary be evil-tempered but right-thinking? How can a parson be wrong-thinking but good-hearted? How can invisible men make themselves more lonely by being seen?



Connor: I don't know, Your stories never made any sense to me.



Monster: The answer is that it does not matter what you think, because your mind will contradict itself a hundred times each day. You wanted her to go at the same time you were desperate for me to save her. Your mind will believe comforting lies while also knowing the painful truths that make those lies necessary. And your mind will punish you for believing both.




Monster: If you speak the truth,  you will be able to face whatever comes.

You May Also Like

9 komentar

  1. lihat sekilas thrillernya di channel Fox Action Movies, cuma belum sempet lihat mbak...

    tapi aku agak gimana gitu sama monsternya...

    BalasHapus
  2. Meski adegannya nggak kayak drama, tapi kalau melihat film tentang penderitaan seorang anak, kok aku jadi turut sedih ya.

    Jadi penasaran nih, sama filmnya.

    BalasHapus
  3. Aku kira tadi groot loh. wqwqwq
    boleh nih ditonton, terakhir aku nonton film yang genrena gini kayaknya The BFG sih..
    menuritmu bagusan mana?
    aku sempet nangis soalnya pas nonton bfg, bukan gara2 anak kecilnya, tapi gara2 monsternya, eh raksasanya kasian dibully temen2nya :'(

    BalasHapus
  4. Kayaknya seru filmnya. Boleh deh, kapan-kapan coba nonton.

    BalasHapus
  5. wah belum pernah nonton ini jadi penasaran deh sekarang :o

    BalasHapus
  6. hahahaha, mas sih nunggu ditrans tv aja film ini.

    BalasHapus
  7. Liat monsternya gmana gitu ya,, serem..
    Tapi penasaran pengen liat ..he

    BalasHapus
  8. jadi kangen masa bebas nonton dan nongkrong di rental novel iiih .,

    BalasHapus
  9. Cannor mirip banget dengan tipeku, tidak begiu populer dan menjadi bully.
    Monsternya mirip manusia kayu, kurang serem.

    BalasHapus