Sepotong Cerita Ex

Mantan. Pacaran terus putus jadi mantan. Kamu anggep dia mantan, dia anggep kamu mantan. Mantan. Saling memegang status mantan.


***


Sebelum seperti aku yang sekarang di SMA dulu aku masuk kategori anak pinter yang canggung, kalau ngomong aneh, wajah standard dan popularitas biasa-biasa aja. Ga ada cowo yang ngelirik dan aku juga lebih suka ngelirik novel daripada ngelirik cowo.

Aku punya temen sekelas. Sebut saja namanya Paijo. Dia anak baru di kelas duabelas IPS dan menjadi hits karena mempunyai pesona. Wajahnya biasa aja, tapi dia tinggi dan atletik banget. Dia juga pintar dan gaul. Gayanya cool. Sebagai anak baru dia sudah bisa memacari temen sekelas aku yang cukup Ok. Para adik kelas berebut jadi adik-adik-an-nya karena si Paijo sudah punya pacar. Dan gatau kenapa si Paijo ini deket sama aku dan suka curhat tentang mantan terindah dia di sekolah yang dulu-yang aku akui doi emang cantik banget.

Ceritanya cukup rumit dan panjang sampai akhirnya saat setahun setelah lulus SMA kami jadian, bukan pacaran karena....

Dan itu kami lalui dengan LDR Jakarta-Bali dari tahun 2012 hingga pertengahan 2014.

Dia punya pacar di Jakarta, temen sekampusnya yang kebetulan pernah satu homestay bareng aku beberapa bulan. Loh? Intinya aku kenal cukup baik dengan pacar dia. Aku PHO? Ga, karena aku sudah dekat dengan Paijo dari SMA dan kalau sedang berdua dia memperlakukan aku kayak aku ini pacarnya-tapi dijadikan rahasia berdua. Lah terus Paijo punya pacar dan jadian sama aku juga? Tapi jadian bukan pacar. Gimana?

Sebelum jadi aku yang sekarang, dulu aku soliter yang naif dan cupu, yang buta masalah cinta-cintaan kaum teenager pada masa itu. Cuma berkutat sama imajinasi sendiri dalam novel teenlit. Di hidup nyata mah stupid. Jadi-saat itu aku penurut banget sama apa kata Paijo. Disepik dikit percaya dan oke-oke aja. Stupid padahal sakit. Sakit banget. Tapi aku bertahan sama Paijo.

Saat libur semester tiba, Paijo pulang ke Bali dan kita date. Paijo ini kalau ngomong romantis dan bikin terbang. Karena sebelumnya-belum ada cowo yang suka sepik macem-macem sama aku. Deketin, mungkin mikir kali ya aku alien jelek yang ga banget. Ga ada yang minat deketin apalagi sepik macem-macem, cuma Paijo aja yang ngelakui hal itu. Duh, gimana gaterlena aku sama Paijo. Naksir berat.

Bahkan saat date kalau si Pacar Jakarta telpon aku kalem. Stupid padahal sakit. Parahnya, karena kita dulu sekelas dan satu sekolah jadi mempunyai banyak teman yang sama, jadi ngumpulpun yah bareng. Dan kalau ada moment seperti ini seolah-olah sikap Paijo ini jadi kayak ga ada hubungan lebih sama aku-cuma sebatas temen sekelas aja. Dia di depan kita semua selalu bersemangat memamerkan si Pacar Jakarta yang cantik- yang berwajah timur-tengah dengan bangga- ada aku disana. Dan itu berlangsung selama tiga kali semester.

Setiap-saat liburan semesternya berlangsung-dan dia ada di Bali, hubungan kami baik-baik saja. Kita kasmaran seperti layaknya pasangan LDR lagi ketemuan. Kita? Aku aja kali ya. Ketika liburan semester berakhir dan dia balik ke Jakarta, end. Dia mesra dong sama si Pacar Jakarta dan sangat terlihat di semua sosial media. Eh, lupa. Saat di liburan semester dan di Bali sama akupun, mereka tetap mesra di semua sosial media. Aku tersembunyi.

Seolah-olah; "Pu, cupu. Sadar diri deh kamu. Kamu cukup disembunyikan aja biar gabikin malu dan levelku turun"

Pernah di semester kedua si Pacar Jakarta marah sama aku. Yaiyalah, stupid. Pacar mana yang ga ngamuk pacarnya chat mesra dengan cewe lain, dan dia kenal baik dengan cewe ini, dan itu aku.

"Kau coba aja rebut Paijo dari aku. Kau ga bakal bisa!" Pesan smsnya waktu itu. Sakit. Sakit banget malah. Kok gini amat.

Entah, aku lupa saat itu si Paijo ini sepik-in aku apa sampai sadarku lama. Bayangkan tiga kali semester. Bener-bener miara stupid.

Pokoknya cerita aku dan Paijo ini cukup rumit dan panjang. Hingga akhirnya di Semester ketiga berakhir dan dia memblokirku di semua sosial media.

Seolah-olah; "Emang kita punya hubungan? Sadar eh Jelek, kamu gapantes buat aku. Lihat muka!"

Aku berjanji ke diri sendiri; "Awas yah kalau aku jadi cantik!"


***

awal February 2017


Percakapan di wassap

May?

Iyah siapa?

Paijo

Aku langsung Block. Aku sudah melewati masa mengobati luka dan melupakan obsesi cantik. Aku mencintai diri aku sendiri dan ga akan biarin siapapun ngusik.

Paijo coba telpon aku berkali-kali.  Dan akhirnya sms

Can we meet,  May?

Ada sesuatu yang pengin aku omongin.

Message deleted.

Halaahh... sesuatu apa? Maaf? Bukan salah sesiapa menurut aku. Aku stupid saat itu dan kamu memanfaatkannya. kan gitu.

Selama beberapa hari Paijo terus menghubungi aku dan cukup mengganggu.

Kalau kamu mau ketemuan, ajakin temen yang lain sekalian reunian kecil-kecilan. Aku lebih respect.

Send


***

The day come


Aku pergi ke restoran yang sudah kami sepakati di daerah Teuku Umar Denpasar bareng temen deket aku, Ana. Sengaja aku bawa serta dia untuk alasan agar bisa pulang lebih awal. Selama beberapa hari di awal Februari Denpasar memang diguyur hujan dan berangin. Akhirnya di pertemuan ini ada tujuh orang yang datang termasuk aku dan Ana.

Dan Paijo, sumpah... caranya berbicara dan bersikap masih sama. Dia menceritakan banyak hal tentang Jakarta. Seolah-olah kita orang cupu dalam tempurung. Duh Boy, kamu kurang piknik. Eneg. Kamipun asyik mengobrol dan dia, aku seolah-olah ga ada disana. Aku malah asyik ngobrol dengan teman lainnya. Bayangkan!

"Heh Paijo, lekas mau ngomong apa? Kalau uda ga ada aku mau pulang. Ana besok shift pagi." Ucapku ketus. Dia tersontak melihatku, pun teman lainnya.

"Maya cii galaknya keluar" Kata Amy

"Ih, jangan pulang. Duduk dulu! Lia, kamu gimana sama Firman?" Katanya, pengalihan issue. Demi apa.

"Loh kok malah ke Firman sih?" Kata Lia heran. Itu sudah lama banget sumpah, dari jaman sekolahan juga mereka uda end dan semua temen seangkatan tau itu.

"Heh Paijo, years change everything" Kataku lugas.

"Ih, May. Tolong yaaa, translate ada di bawahnya" Canda Lia.

Oke, sabar. Entah, ngeliat Paijo kayak flashback saat-saat dimana aku dibuat ngerasa kalau aku ini cewe jelek yang gapantes banget sama dia. Pernah suatu hari saat mengobrol dengan alumni salah satu kakak kelas yang kebetulan memang dekat dengan kami-karena dia tutor kami-jadi uda biasa fair dan ngobrol blak-blakan.

"May, siapa cowonya?" Tanyanya santai.

"Ya Paijolah, kak! Terus siapa?"

"Hah? Bahahaha.... emang Paijo mau sama kamu. Paijo itu levelnya si Pacar Jakarta" Katanya.

"Pernah Paijo nunjuki pacarnya, cantik banget!" Lanjutnya santai.

Saat itu emang biasa-biasa aja. Karena doi emang uda biasa blak-blakan sama kita, tapi saat itu bener-bener nusuk banget di hati aku. Paijo ini bener-bener bikin seolah-olah dunia ngintimidasi cewe jelek dan gendut macem aku- yang ga pantes jadian sama orang di level dia; pinter, atletis, popularitas dan cool.  Punguk merindukan bulan.

But seriously, darisana aku belajar mengartikan cantik dari prespektif yang berbeda. Dari luka yang Paijo buat aku belajar untuk lebih menerima diri apa adanya.

"Aku pulang duluan!" Kataku dan beranjak dari dudukku, mengajak Ana untuk pulang. Teman-teman melihatku heran. Tentu saja Paijo kepupungan melihatku yang beranjak pergi.

"Duluan ya, Guys. Bye. Info kalau ada meet up lagi" Pamitku.

"Loh, May. CURANG" Kata Amy.

Aku keluar Restorant dan saat itu hujan sedang deras. Paijo mengejarku. Menghampiriku, kami yang sedang menunggu hujan sedikit reda di parkir.

"May, aku pengen ngomong sesuatu" Katanya.

"Apa? Tadi aku tanya kamu. Kamunya gajawab"

"Iyah, tadi kan di dalem banyak orang. Ada Amy juga"

"Lah apa hubungannya? Emang kamu mau ngomong apa?"

"Kamu kenapa block aku di wassap?"

Hah? Hello? Sadar tak dia?

"Loh dulu kan kamu block aku juga!"

"Iyah, bukan May. Aku gapernah block kamu. Aku ganti hape"

Ya Tuhan, dia kira aku segaptek itukah? Demi apa, apa hubungannya ganti hape dengan block sosmed.

"Aku juga" Nadaku mulai meninggi. Emosi.

"Mbak, tolong dong kasih tau Mayanya jangan block aku di wassap" Rengeknya kepada Ana.

"Loh? Yah biarin aja, salahmu jahat!" Jawab Ana ketus.

"Ish, pasti uda tau ceritanya ya" Sesalnya.

"May, aku main ke kostmu ya?"

"Buat apa? Ngapain?"

"Iyah, aku pengen dengerin kamu cerita"

"Aku gapunya cerita yang musti aku ceritai ke kamu"

"Aku ada"

"Apa?"

"Aku lulus, aku sarjana"

"Yauda selamat"

"Selamat doang?" Nadanya kecewa.

"Terus apa?"

"Aku mau lanjut S2"

"Yaudah sana"

"May, tolong. Ini hari terakhir aku di Bali. Besok pagi aku balik ke Jakarta"

"Duh May, masak kamu gapeka. Paijo itu ngodei kamu; Please tahan aku, May!" Kata Ana menimpali. Paijo diam seolah-olah membenarkan.

Ya Tuhan, tolong hujan lekas reda. Uda eneg banget sama basa-basinya.

"Aku main ke kostmu ya?"

"Aku malem ini nginep di kost Ana"

"Yauda aku ke kost Ana ngikutin kalian dari belakang"

"Kost kita kost khusus Putri"

"Yauda aku nunggu di luarnya"

Aku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 9.40 pm. Cowo apa maksa main ke kost putri malam-malam. Mau ngapain? Grepe-grepe?. Jauh-jauh belajar pendidikan agama sampai ke Ibu Kota  tapi masih maksa main ke kost putri malam-malam, waktunya orang istirahat yang notabene kita harus pergi bekerja di pagi hari. Bertahun-tahun belajar agama kayaknya gaguna buat otaknya.

Akhirnya hujanpun reda. Aku dan Ana segera menuju-ke-dimana motor kami terparkir. Paijo tetap mengikuti kami sambil merengek gajelas. Apa coba.

"Heh Paijo. Kamu uda punya cewe masih ganjen aja sama cewe lain" Ucapku sebelum pergi meninggalkannya menerobos gerimis, pulang.


______




You May Also Like

44 komentar

  1. "Kau coba aja rebut Paijo dari aku. Kau ga bakal bisa!"
    jeng jenge jeng,,,,, *sinetronmodeon

    duh mbak segitunya ya, emang mantan itu yah tiba2 aja nongol gitu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh masa muda yang penuh drama ke-alay-an

      Hapus
  2. Paijo, sana! nggk ngepek dengan sarjana mu, mau sampai S berapapun aku tak sudi haha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ihhh iyah bener banget. ga efek apalagi ga da duitnya, hempasss

      Hapus
  3. kasihan banget paijonya, heheheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah kasian banget diaaaa... abis sih dianya gitu

      Hapus
  4. Menyentuh sekali ceritanya. Menghargai diri sendiri lebih baik. Just forget Paijo. Kamu berhak dapat yang lebih baik.

    BalasHapus
  5. Wah, seru banget ceritanya. Bisa nih jadi naskah FTV, hehehe :D

    BalasHapus
  6. Ya ampun, Paijo Paijo, emang kayak sinetron ya mbak :)

    BalasHapus
  7. Ini Paijo mirip banger dengan sifatku. Pintar sekolahnya dan pintar membuat hari wanita klepek-klepek. Pura-pura tida butuh perhatian walau sebenarnya pengen disayang :)
    Oh paijo, paijo.

    BalasHapus
  8. kalau saya jadi paijo, saya akan merayu orang tua may, saya akan bujuk meski ada ayahnya may, sehingga may tak bisa lagi mencuiki saya.

    tapi saya tidak mau sendiri, saya mau ngajak Djangkaru Bumi untuk menemui mereka ingin mengatakan kalau saya serius ke may dan pada hari itu juga saya mau ngelamarnya wkwkwkw

    BalasHapus
  9. Paijo oh Paijo... Nasibmu kok ngenes banget. Hehe

    BalasHapus
  10. Duh ldr nya cukup lama juga ya. Sungguh perjuangan sih itu.
    Ya menurut saya, tidak ada salahnya juga sih memperlakukan paijo seperti itu. Karena hati perempuan itu ibarat kaca, kalau udah retak mana bisa sempuran seperti sedia kala lagi kan ya.

    BalasHapus
  11. Ahh, jadi baper kalau baca-baca tulisan tentang mantan. wkwkw

    BalasHapus
  12. Paijo playboy..
    rasanya aneh.. jadian tapi bukan pacaran..

    #SalamKunjunganBalik

    BalasHapus
  13. Makanya neng jgn mw dibuat terbang m paijo
    Sekalinya dibuat terbang, dijatuhin kan sakit
    .
    Hebat y paijo bisa buat orang terbang
    Dia pake apaan y?
    .
    Trus gimana tuh skrng paijo lanjut s2?

    BalasHapus
  14. Eh, secara gak langsung, lu jadi selingkuhannya dong, May?

    Kok jahat gitu, sih? Katanya punya pacar cantik di Jakarta, tapi masih selingkuh? :|

    Paijo maruk. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. maruukkk banget,,

      sampe kamu ga kebagian ya?

      Hapus
  15. Huahahaha!

    Neng catet ya! Standar cantik itu bukan kurus kayak tiang bendera, bkn jg putih licin kayak porselen. Kayak kata mas bruno mars, cause you're amazingggg just the way you areeeeee

    BalasHapus
  16. kudu banget ye namanya paijo may?
    dohhh ini cerita sedih apa gmn kok aku ngikik hmm :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngakak sekarang, kalo dulu mah nangis bombay

      Hapus
  17. ceritanya panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang x lebar x tinggi : 2 = gado-gado bacanya
    ada seru, senyum, meringis, cemberut, kasihan (maaf ya), ceria, mesem2 dan sebagainya :) :(

    *jadi inget curhat tie patkay di film sun go kong: beginilah mantan, perjumpaannya tiada akhir

    #eaaa #jangan diambil hati ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukaannn, ini segitiga sama dengan alas kali tinggi

      Hapus
  18. Akang Paijo ngemeng2 sekarang udah jomblo apa? Ehhh... kepo amat yak, haha... Saya pun pernah begini, ahahaha... Just friend, LDR, but...

    BalasHapus
    Balasan
    1. udaa punya pacar baruuuu dia paijoooo

      Hapus
  19. Ya ampun, waktu aku baca namanya Paijo, aku pikir, "Kenapa milih nama aliasnya Paijo banget, hhehee",,,pas baca keseluruhan, ternyata dia memang pantas dinamain paijo wakjo, dasar...aq sampe geregetan sendiri bacanya,,,trus jadi inget2 dulu ada juga yang kayak gitu saat jaman SMA. Ternyata cowok kayak gitu tuh ada di mana aja ya,,,pas gede dan udah ngerti serta banyak pengalaman, aku jadi ngetawain sikapku dulu yang stupid itu,,, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkkwwkwk

      Mosok Kak Gir...
      pengennya dimusnahin sekalian aja cowo macem paijo ini, tapi kalo musnah jadi ga berwarna deh dunia persilatan

      Hapus
  20. salam kenal mba,
    ahahahaha kalo saya sih gampang aja mba. di ajak aja nguppiii bareng tapi di kasih sianida tuh kopi hahahaha

    aku jadi seorang cowo jadi ngerasa gimna gitu hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkkwk, emoh

      jangan ada sidang kayak kasus sidang jesicca lagi.... seneb liat tipi

      Hapus
  21. saat ditinggal dalam hujan, paijo ngapai yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengennya kesambar petir pak ustadz tapi yaaaaa ga nyatanya. kan kesel

      Hapus